Hari Ulang Tahun dan Hari Mama

Ulang tahun Megumi selalu bertepatan dengan Hari Ibu yang juga merupakan hari libur nasional, 22 Desember. Tahun ini, beberapa hari sebelumnya, bapaknya ada panggilan tugas kerja di luar kota dan mengajak keluarganya menginap. Apakah acaranya akan dirayakan di sana? Ataukah di rumah seperti biasanya?


NOTES


MEET THE CHARACTERS

Fushiguro fam: – Toji – Mamagumi (ibu kandungnya Megumi) – Mamaguro (ibu kandungnya Tsumiki) – Tsumiki – Megumi

Zenin fam: – Naoya (omnya Megumi, sudah kerja) – Maki (tantenya Megumi, kakak kelasnya Megumi, adik kelasnya Tsumiki) – Mai (tantenya Megumi, kakak kelasnya Megumi, adik kelasnya Tsumiki)

Friends: – Yuuji, Nobara, Junpei, Rika (teman sekelasnya Megumi) – Yuuta, Toge, Panda (teman sekelasnya Maki dan Mai) – Sukuna (teman sekelasnya Tsumiki, kakaknya Yuuji) – Gojo (teman masa remajanya Toji, wali kelasnya Megumi)

More fam and friends: Megumi's Shikigami: – Shiro, Kuro, Kon si anjing kembar tiga – Orochi si ular – Nue si burung hantu – Gama, kelompok katak – Seiteishirazu, kelompok katak bersayap – Banshou si gajah – Datto, kelompok kelinci – Mahoraga si raksasa Toji's Cursed Spirit: Ulat Sagu si ulat Naoya's pets: (Tokoh orisinal) – Naoren si kucing – Kelompok ikan Junpei's Shikigami: Orizuki si ubur-ubur udara


Hari Ulang Tahun dan Hari Mama by apuspitarh


Jumat pagi, 17 Desember, Tsumiki dan Megumi mengambil rapor tengah semesternya bersama orang tuanya. Setelah menerima rapor, mereka tidak langsung pulang, tetapi bercengkerama dahulu dengan teman-temannya sampai waktu makan siang. Mamagumi dan Mamaguro mengusulkan mereka makan di kantin sekolah, usulan itu langsung disetujui oleh kepala keluarga dan anak-anaknya.

Selesai makan, Toji mendapat telepon dari tempat kerjanya, ternyata ia dapat tugas pekerjaan di luar kota selama Senin, Selasa depan. Ide bagus! pikirnya. Ia menghabiskan teguk terakhir minuman teh manis panas andalannya di sekolah kemudian beranjak ke toilet, “panggilan alam,” katanya kepada keluarganya.

Beres dari toilet, ia menghampiri Gojo, teman kepercayaannya sejak masa remaja sekaligus wali kelas Megumi tahun ini, dan memberi sesuatu untuk beberapa hari ke depan.

Kunci rumah.

“Hah? Buat apa?” tanya Gojo bingung. “…” jelas Toji. “Oh, oke, siap!” kata Gojo mantap.

Lho, memangnya nanti pulang bisa masuk rumah kalau kuncinya dikasih ke orang lain? Bisa! Keluarga Fushiguro selalu sedia kunci tambahan, tiap orang pasti pegang satu kunci dan selalu dibawa tiap keluar rumah, kecuali Megumi. “Males ah bawa-bawa kunci rumah, ribet, toh bisa minta dibukain,” katanya beberapa waktu lalu ketika pertama kali disarankan untuk selalu membawa kunci tiap keluar rumah.

Sebelum kembali ke kantin, Toji menge-chat sepupunya, Naoya.

“Cuy, kosong kan seharian? Gua bentar lagi mampir rumah lu ye, mo ngobrol bentar. Tsumiki juga mo nitipin barang.” “Kosong kok. Ok, gua tunggu.”

Tak lupa, ia juga menge-chat putri sulungnya, Tsumiki.

“Kak, jangan bilang2 ke mama sama megumi ya. Bentar lagi kan hari ibu sama ultah megumi tuh. Kakak ajakin temen2 buat nyiapin party di rumah ya, bikin aja group chat gitu biar gampang ngurusnya, invite pak gojo juga, dia pegang kunci papa. Kita abis ini mampir ke rumah om nao dulu, kakak pinjemin kunci rumah ke om, nanti papa kasih tau alesannya rame2 di kantin ya.” “Oiya, nanti om nao diinvite juga ya, biar makin rame wkwk.” “Oke, pa!”

Sesampainya kembali di kantin, Toji memberi tahu keluarganya tentang pekerjaan luar kotanya itu sekaligus mengajak mereka menginap di sana mulai akhir pekan ini. “Sekalian jadi hadiah liburan buat Kak Miki sama Dek Gumi abis berjuang satu semester,” tambahnya, “sama nanti mampir ke rumah Om Nao dulu ya sebelom pulang.” Setelah sesi diskusi selesai, mereka beranjak dari kantin, berpamitan dengan bapak-ibu guru dan teman-teman, berjalan menuju mobil di tempat parkir sekolah, dan berangkat ke rumah Naoya.


Keluarga Fushiguro tiba di rumah Naoya. Sang tuan rumah terlihat sedang asyik memandang kolam ikan sambil mengelus kucing hutan norwegia oranye kesayangannya, Naoren (“gabungan Naoya sama oren,” jelas Naoya ketika memberikan nama untuk si kucing), di teras rumah. Menyadari kehadiran kerabatnya, ia membukakan gerbang, membiarkan Toji memarkirkan mobil di halaman rumah yang luas itu. Setelah parkir, keluarga Fushiguro turun dari mobil.

Megumi langsung bersemangat memanggil anjingnya si kembar tiga — Shiro, Kuro, dan Kon — dan mengajak mereka bermain dengan Naoren. Mereka berlima memang sudah akrab sejak Naoren kecil diadopsi sekian tahun lalu. Mamagumi dan Mamaguro bergabung dengan lima sekawan itu. Toji dan Tsumiki langsung menuju pintu rumah.

“Kak, sini! Gak ikut main?” kata Mamagumi dan Mamaguro bergantian. “Miki nyusul, Ma! Mau ke toilet dulu,” balas Tsumiki.

Kedua ibunya mengangguk sedangkan Megumi masih asyik bermain.

Di dalam rumah, dua orang sepupu itu banyak berdiskusi untuk acara beberapa hari nanti, disusul Tsumiki yang memberikan kunci rumahnya. Selesai berdiskusi, mereka bertiga ke teras rumah. Tsumiki bergabung dengan Megumi sedangkan Toji dan Naoya duduk di bangku teras saling bercengkerama.

Jam menunjukkan pukul 4 sore, keluarga Fushiguro berpamitan dengan Naoya, Naoren, dan ikan-ikan di kolam. Mereka menuju ke sebuah minimarket untuk membeli beberapa perlengkapan menginap besok kemudian pulang ke rumah.


Keesokan harinya, pukul 6 pagi, keluarga Fushiguro memasukkan semua barang yang sebelumnya sudah disiapkan ke dalam mobil dan berangkat. Jalanan sangat padat, untungnya banyak pohon di sekitar jadi setidaknya auranya lumayan sejuk. Sesekali ada saja yang tertidur, yang bangun bergantian mengobrol dengan Toji agar tidak mengantuk, terutama Tsumiki yang sambil mengoordinasi dan memantau group chat-nya.

Setelah sekian lama terjebak macet, mereka akhirnya sampai juga di tempat tujuan dan beristirahat. Tempat itu sangat luas, jauh lebih luas daripada rumah pribadi mereka, memang sudah disiapkan khusus untuk keluarga Fushiguro. Tentunya, Megumi langsung memanggil semua Shikigami-nya dan menghampiri Toji sebentar.

“Pa, Gumi sama Orochi mau main sama Ulet Sagu juga, boleh gak?” tanya Megumi.

Ia memang sering memanggil Cursed Spirit milik bapaknya dengan sebutan “ulat sagu” hingga Toji pasrah dan akhirnya menamainya dengan nama itu.

“Boleh dong!” jawab Toji yang langsung memanggil Cursed Spirit-nya.

Biasanya, di rumah, mereka sudah memiliki kesibukan masing-masing tiap hari selama 24 jam dari pagi hingga malam. Namun, selama liburan di tempat ini, keluarga Fushiguro jadi lebih sering menghabiskan waktunya bersama, kecuali Senin dan Selasa pagi karena Toji ada tugas kerja sampai waktu makan siang.


Di sisi lain, Gojo dan Naoya, selaku wakil ketua grup yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Toji dan Tsumiki, membagi subtim sesuai keahlian para anggotanya. Tim konsumsi ada Yuuji, Junpei, Toge, dan Panda. Tim kado ada Maki, Nobara, dan Sukuna. Tim desain dan dekorasi ada Mai, Yuuta, dan Rika. Meskipun terbagi menjadi tiga tim kecil, mereka semua tetap saling bekerja sama. Untuk keperluan transportasi, mobil dan motor milik Gojo, Naoya, dan Sukuna selalu siap digunakan.

Mereka semua sibuk menyiapkan acara sejak hari Sabtu. Rumah keluarga Fushiguro menjadi “markas” mereka dari pagi hingga sore. Benar, acara akan diadakan di sana. Karena itulah, kunci rumah dititipkan ke dua orang wakil ketua tersebut. Tak lupa, mereka semua juga selalu lapor kepada Tsumiki melalui grupnya, hal apa pun itu: situasi kerja, biaya alat dan bahan, dan lain-lain.

“Kuenya mau satu aja yang gede sekalian atau mau tiga nih?” “Eh, menurut kalian, ini bagus gak jadi kado?” “Guys, ruangannya mau dikasih glow in the dark gak?” “Dana hari ini abis 30 ribu ya.” “Orizuki ikut bantu kita lho!” “SIAPA PUN ANTERIN KITA KE MALL SITU DONG!” “Kak Miki, liat deh! Keren gak?”

Percakapan mereka kurang lebih seperti itu. Tsumiki sendiri tidak jarang tertawa lepas tiap kali membacanya, sering juga ditanya kedua Mamanya.

“Miki asik banget, ngetawain apa sih?” “Ini, ceritanya lucu, ahahhaa!”


Tibalah Hari-H acara, 22 Desember. Pagi hari itu pukul 9, di tempat penginapan, Megumi kebetulan masih tidur pulas. Kesempatan yang bagus untuk memberikannya kejutan! Toji, Mamagumi, Mamaguro, dan Tsumiki tiba-tiba menyanyikan lagu ulang tahun untuk Megumi. Semua Shikigami dan Ulat Sagu ikut memeriahkan suasana. Hal itu membuat Megumi terbangun bingung. Setelah sadar, ia tersenyum bahagia, dua ekor Datto meloncat ke pangkuannya.

“Makasih, semua! Oh iya, sekarang Hari Ibu juga ya? Selamat Hari Ibu, Mama!” ucap Megumi dengan senyuman khasnya.

Suasana di sana makin meriah. Tak lupa, mereka mengabadikan momen berharga itu dengan mengambil beberapa foto dan video kemudian memasukkannya ke grup keluarga. Setelah itu, karena akan pulang pada hari itu juga, mereka merapikan barang-barang, makan brunch ringan, dan mandi. Selanjutnya, Tsumiki kembali ke grupnya.

Naoya: “Miki, semuanya dah siap nih di sini.” Maki: “Kapan otw?” Mai: “Kapan nyampe?” Junpei: “Ayo, Kak. Orizuki udah kepengen main nih!”

Tsumiki berkoordinasi dengan Toji. Mereka sepakat akan berangkat sebentar lagi.

Tsumiki: “Hahahaaa, oke oke. Sebentar lagi berangkat kok. Tunggu kami ya!!” Yang lainnya: “Oke! Tiati ya!”

Benar saja, mereka memang segera berangkat. Perjalanan pulang tidak selama perjalanan pergi, jalanan juga lebih sepi. Tidak terlalu mengebut, mereka hanya membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam untuk sampai ke rumah, jam menunjukkan pukul 3 sore.


Di depan rumah, sudah ada dekorasi lengkap nan mewah. Melihatnya, Mamagumi, Mamaguro, dan Megumi memelotot kagum kebingungan; Toji dan Tsumiki hanya tersenyum senang, bangga terhadap kerja keras timnya. Mereka membuka gerbang, menurunkan barang-barang, dan meletakkannya di teras rumah dekat pintu, Toji memarkirkan mobil di garasi rumah, Megumi meminjam kunci ibunya dan membuka kunci pintu. Mereka semua disambut oleh cahaya Orizuki yang sedang menari ke sana kemari, sesuai arahan Junpei kepadanya. Di salah satu sisi ruangan itu, terlihat tulisan “S,” “U,” “T,” “H,” dan “M” menyala di tengah kegelapan. Apa itu? pikir Mamagumi, Mamaguro, dan Megumi. Setelah Orizuki selesai menari, Tsumiki langsung menyalakan lampu ruangan.

Surprise!” seru seisi ruangan, mengagetkan ketiga individu yang sedang beracara itu.

Maksud dari huruf-huruf yang menyala tadi tenyata adalah “Selamat Ulang Tahun dan Hari Mama!” Yang lainnya menggunakan potongan kertas biasa sehingga tidak terlihat ketika ruangan masih gelap. Ruangan itu terlihat sangat mewah dan rapi. Di tengah ruangan, sudah ada meja utama dengan tiga kue yang berukuran sama besar di atasnya. Di depannya, sudah ada tumpukan kado, jumlahnya sangat banyak, mulai dari yang kecil sampai ke yang besar, cukup untuk menghiasi bagian depan meja. Di sisi lain ruangan itu, ada banyak deretan aneka hidangan makanan dan minuman.

Acara dimulai. Yuuta dan Nobara langsung beraksi menjadi MC pada acara itu. Orizuki dan Naoren langsung menghampiri Toji dan Megumi. Paham dengan maksud kedatangannya, mereka langsung memanggil kawanan: Ulat Sagu, Shiro, Kuro, Kon, Orochi, Nue, Gama, Seiteishirazu, Banshou, Datto, dan Mahoraga. Mereka mulai asyik bermain bersama, sesekali dihampiri Panda dan orang-orang. Sangat menggemaskan!

Kedua MC memanggil Toji, Tsumiki, Mamagumi dan Mamaguro, serta Megumi secara bergantian dan berurutan untuk memberikan sambutan. Setelah itu, keluarga Fushiguro diarahkan ke meja utama untuk make a wish, tiup lilin, dan potong kue. Suara tepukan tangan terdengar sangat meriah, tentu saja dilengkapi oleh suara-suara para Shikigami, Ulat Sagu, dan Naoren.

Sambil menikmati hidangan, mereka ternyata juga sudah menyiapkan berbagai macam permainan yang berlangsung cukup lama. Acara dilanjut dengan sesi buka kado. Mereka juga bermain tebak-tebakan, kado itu dari siapa dan apa isinya. “Individu yang menjadi tebakan salah, harus memberikan permen ini kepada individu yang menjadi jawaban benar!” seru Yuuta dan Nobara. Maksudnya, kalau misalnya keluarga Fushiguro menebak suatu kado tertentu adalah pemberian dari Yuuji, padahal dari Toge, Yuuji harus memberi satu bungkus permen yang sudah disediakan kepada Toge. Ide ini tak lain dan tak bukan adalah hasil brainstorming si kembar, Maki dan Mai, melalui “telepati batin” khusus milik mereka. Banyak ternyata tebakan yang salah, kotak permen menjadi kosong tak bersisa. Canda tawa terdengar sangat lepas.

Selanjutnya adalah acara bebas. Ada yang iseng bernyanyi diiringi “alat musik” seadanya. Ada yang berkerumun mengobrol. Macam-macam.

Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 9 lewat. Mereka saling bahu-membahu membersihkan rumah keluarga Fushiguro. Setelah itu, satu per satu temannya pulang. Sekitar pukul 10, rumah itu menjadi sepi kembali, hanya tersisa para tuan dan nyonya rumah. Gerimis hujan mulai menampilkan dirinya.


“Oh iya, Mama, Megumi. Ini ada tambahan spesial dari Papa sama Miki, hehe. Dibaca ya!” kata Tsumiki sambil membawa buku tebal yang sebelumnya sudah disiapkan dan disimpan di kamarnya.

Megumi menerima buku itu dan membukanya di antara para ibu.

Buat dua wanita dan satu pria paling spesial sejagat raya. With love, Papa dan Tsumiki.

Dibaliknya lembaran buku itu. Kali ini, terlihat lebih banyak tulisan ucapan dan curhatan Toji dan Tsumiki kepada keluarganya. Mereka membacanya bersama. Terdengar suara tangisan kecil Mamagumi dan Mamaguro, hati mereka tersentuh oleh ukiran kata-kata yang dibacanya. Megumi menahan air matanya tanpa bersuara, hanya tersenyum, tetapi sudah samar terlihat getaran pranangis-nya.

Selesai membaca dan menghayati semua tulisan pada lembaran itu, mereka membalik lagi buku itu.

Album foto.

Ternyata buku tebal itu adalah album foto keluarga Fushiguro. Naoya, Maki, dan Mai banyak membantu Toji dan Tsumiki mengumpulkan foto-foto mereka, mulai dari yang terlama sampai ke yang terbaru.

“Makasih, Papa! Makasih, Kak Miki!”

Meskipun gerimis, suasana rumah terasa hangat dihiasi aura ceria keluarga Fushiguro yang bersatu di ruang tengah sambil asyik bernostalgia.


Hari Ulang Tahun dan Hari Mama by apuspitarh